ASPEK-ASPEK ILMU PENDIDIKAN

Manusia adalah satu-satunya makhluk Tuhan yang berbudi dan bermasyarakat. Oleh karena itu, masyarakat akan turut membina budi pekerti, pribadi keluarga, kehidupan berbangsa dan sesama manusia. Budi pekerti atau cara hidup pribadi seseorang dalam hidup bermasyarakat yang terbina akan dapat dihayati dalam kehidupan sehari-hari melalui suasana pendidikan, baik di lingkungan keluarga, lingkungan perguruan maupun di dalam masyarakat. Dalam hidup bermasyarakat akan sangat diperlukan pengetahuan dan ketrampilan yang tidak hanya dapat diperoleh secara normal di dalam perguruan, akan tetapi dengan cara-cara lain di dalam keluarga dan masyarakat (Said, 1978: 108)

Sebagaimana diketahui bahwa manusia merupakan makhluk sosial dan individu yang membedakan dengan makhluk lain. Selain itu, hakikat manusia adalah sebagai makhluk susila dan berketuhanan. Untuk itu diperlukan aspek-aspek pendidikan yang sangat fundamental dalam menjalani kehidupan bermasyarakat (Indrakusuma, 1973: 51). Aspek-aspek pendidikan yang dimaksud diuraikan sebagai berikut.

2.1    Pendidikan Budi Pekerti Atau Pendidikan Akhlak

Manusia adalah makhluk Tuhan yang ditakdirkan memiliki budi pekerti. Dengan budi pekerti ini manusia menyadari dirinya sebagai pribadi yang akan membudikan dirinya dalam cara hidup bermasyarakat. Anak yang berbudi akan memungkinkan untuk menghayati kenyataan hidup secara logika yakni menurut nilai-nilai kebenaran dan kemutlakan. Cara penghayatan ini memungkinkan terbinanya kehidupan, ilmu, tata susila, seni dan ketuhanan. Penjiwaan budi pekerti dilaksanakan demi kebaikan pribadi, keluarga, bangsa dari kebaikan sesama manusia dan kebaikan alam semesta (Said, 1978: 43)

Budi pekerti atau akhlak dapat diartikan sebagai satu-satunya aspek yang sangat fundamental atau paling dasar dalam kehidupan. Pendidikan merupakan proses belajar mengajar yang dapat menghasilkan perubahan tingkah laku yang diharapkan. Budi pekerti dapat terlahir dari pendidikan baik secara formal maupun non formal. Pendidikan membantu agar proses itu berlangsung secara berdaya guna dan berhasil guna. Indrakusuma (1973:52) Tujuan dari pendidikan budi pekerti ialah:

  • Ø Mendidik anak agar dapat membedakan antara baik dan buruk, terpuji dan tercela.
    • Ø Mendidik anak dalam sopan-santun.

Pembentukan pendidikan akhlak ada dua macam :

  • Ø Pembentukan kata hati agar anak memiliki kepekaan terhadap baik dan buruk
  • Ø Pembentukan kemauan agar anak mempunyai kemampuan yang kuat untuk tidak melakukan hal yang tidak baik.

Ahli filsafat Yunani kuno Socrates mengatakan bahwa “siapa yang tahu akan mau” yang artinya seseorang akan mau berbuat sesuai kebajikan jika ia tahu akan kebajikan, tapi pada kenyataannya di jaman sekarang tidak demikian. Pada saat ini harus ada pembentukan kemauan disamping pembentukan kata hati untuk berbuat sesuatu dengan yang baik sebagaimana telah kita ketahui. Indrakusuma (1973:52) Rousseau menyatakan “manusia baik waktu dilahirkan tetapi jadi rusak karena masyarakat.”

Pelaksanaan pendidikan budi pekerti di sekolah:

  • Ø Pendidikan budi pekerti diberikan pada jam-jam tersendiri. Hal ini cocok

untuk murid-murid kelas rendah.

  • Ø Pendidikan budi pekerti diintegrasikan kedalam semua mata pelajaran. Hal ini cocok untuk kelas-kelas yang lebih tinggi.

Pada sekolah-sekolah yang menyelenggarakan pendidikan awal seperti TK, SD, dan SLTP peran guru sangat besar dan bahkan dominan. Pada taraf pendidikan formal tersebut, guru mempunyai peranan yang cenderung mutlak dalam membentuk dan mengubah pola perilaku anak didik (untuk memiliki budi pekerti yang baik). Dengan demikian, hasil kegiatan guru tersebut akan tampak nyata pada kadar motivasi dan keberhasilan studi pada taraf  itu, yang mempunyai pengaruh yang sangat besar pada tahap-tahap selanjutnya. Jadi pendidikan budi pekerti atau akhlak bertujuan membentuk kepribadian yang luhur.

Hal yang perlu diperhatikan terkait dengan aspek ini bahwa dalam memberikan pendidikan budi pekerti tidak cukup dengan  hanya menceritakan saja, melainkan disertai dengan latihan-latihan serta pengawasan yang tertib dan kontinyu.

2.2  Pendidikan Kecerdasan

Pendidikan kecerdasan merupakan tugas pokok dari sekolah disamping tugas-tugas yang lain (Indrakusuma, 1973:55). Tujuan dari pendidikan kecerdasan adalah melatih dan mempertinggi daya pikir anak sehingga dapat berpikir secara kritis, logis, kreatif dan reflektif. Hal tersebut diuraikan sebagai berikut:

  • Berfikir kritis berarti dengan cepat anak melihat hal-hal yang benar dan tidak benar. Hal ini dimaksudkan agar bebas dari pengaruh otoritas. Siapapun yang membuat anak malas, takut, segan atau malu untuk berfikir sendiri. Berfikir kritis dapat membuat sang anak bertanggung jawab pribadi atas apa yang diyakini benar, sehingga keyakinan anak bersifat mantap dan kokoh, dan hanya berubah dengan peningkatan kemampuan untuk berfikir.
  • Berfikir kreatif berarti dapat menemukan sesuatu yang baru dari percobaan-percobaan dan pengamatan yang dilakukan. Dengan kreatif anak dapat menentukan rasa mereka berdasarkan keyakinan dan kehendak mereka sendiri, menurut ketentuan logika (benar atau nyata). Jelaslah bahwa dengan sikap kritis dan kreatif anak dapat memperkokoh keyakinan. Secara kritis dan kreatif anak menerima dan menanggapi keadaan dan kejadian tidak sebagai sebab atau penentu dari apa yang dia rasakan, melainkan sebagai perangsang atau tantangan yang tepat, berdasarkan keyakinan diri sendiri.
  • Berfikir logis berarti dengan cepat melihat hubungan masalah yang satu dengan masalah yang lain, dapat menghubungka beberapa masalah, membandingkan dan menarik kesimpulan.
  • Berfikir reflektif berarti dapat menggunakan cara-cara berfikir iduktif dan deduktif dengan tepat untuk memecahkan persoalan

Untuk melatih berfikir pada anak maka anak berikan kesempatan untuk bernalar, dengan melakukan penyelidikan dan menarik kesimpulan sendiri. Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk melatih anak berfikir ialah:

  • Menghindari verbalistis dalam pengajaran yaitu pengajaran yang disajikan hanya dengan kata-kata tanpa disertai contoh, demonstrasi atau keperagaan. Sehingga murid hanya menghafal tanpa mengerti pengertian dari yang dihafal. Selain itu, pengertian tidak akan tahan lama tersimpan dalam kesadaran.
  • Menyajikan pengajaran dalam bentuk pemecahan masalah (problem solving), dengan demikian murid dipaksa untuk berfikir bagaimana caranya menggunakan teori dan rumus yang telah dipelajari untuk memecahkan masalah yang dihadapi.
  • Melakukan aktifitas dalam praktek untuk menyelidiki dan menguji kebenaran, pengetahuan-pengetahuan yang diperolehnya.
  • Melatih murid-murid untuk membuat laporan setelah melakukan suatu kegiatan, sehingga bisa mengungkapkan isi hatinya dengan bahasa teratur, singkat, jelas dan mudah dimengerti.

Untuk melatih murid-murid berfikir logis digunakan  metode-metode sebagai berikut:

  • Analogi ialah menarik kesimpulan berdasarkan persamaan-persamaan
    • Induksi ialah menarik kesimpulan berdasarkan contoh percobaan atau fakta
    • Deduksi ialah menarik kesimpulan berdasarkan dalil atau hukum
      • Silogisme ialah menarik kesimpulan dengan dua tingkat antara lain: 1) premis mayor yaitu pertanyaan yang mengandung pengertian yang lebih tinggi atau lebih luas; 2) premis minor yaitu pernyataan yang mengandung pengertian yang lebih sempit atau rendah dari premis mayor.

2.3 Pendidikan Sosial atau Kemasyarakatan

Pada umumnya manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri dan senantiasa hidup dalam kelompok. Untuk itu, manusia dituntut dapat menyesuaikan diri. Tujuan dari pendidikan sosial adalah mendidik anak agar dapat menyesuaikan diri dalam kehidupan bersama dan dapat mengambil bagian secara aktif dalam kehidupan tersebut. Pendidikan sosial dari sekolah dapat dikembangkan melalui pembagian tugas dan kegiatan sosial dalam masyarakat. Pendidikan sosial perlu untuk memenuhi kebutuhan kita agar diakui, dihargai, dihormati dan dikagumi serta untuk dianut dan diamati.

 

2.4  Pendidikan Dalam Kewarganegaraan

Sebagai manusia tentunya kita juga hidup dalam suatu kelompok yang besar yaitu negara. Oleh karena itu, sangatlah penting jika kepada anak diberikan pendidikan kewarganegaraan. Pendidikan kewarganegaraan yaitu pendidikan yang bertujuan agar anak menjadi warga negara yang baik berguna bagi tanah air, bangsa dan negara. Sehingga, tahu akan nilai-nilai kemerdekaan, kebenaran, keadilan dan sanggup membela dan memperjuangkannya.

Dengan pendidikan kewarganegaraan anak akan tahu dan sanggup melaksanakan hak-hak dan kewajibannya. Sebagai warga negara anak harus diajari untuk memelihara kelestarian bangsa dan negara, untuk itu diperlukan memupuk rasa kebangsaan yang merupakan rasa perikemanusiaan dan terdiri dari nasionalisme (cinta bangsa) dan patriotisme (cinta tanah air). Dapat dikatakan bahwa pendidikan kewarganegaraan tidak boleh menimbulkan chauvinisme, yaitu sikap penghargaan yang berlebihan terhadap bangsa dan negaranya sendiri.

2.5  Pendidikan Estetika atau Keindahan

Pendidikan keindahan bukan merupakan aspek pendidikan yang begitu prinsipial atau tidak bisa digunakan sebagai suatu pokok penghidupan. Tujuan pendidikan keindahan adalah agar semua anak mempunyai rasa keharuan terhadap keindahan dan untuk membiasakan dengan hal-hal yang baik dan indah. Sehingga dapat menghargai dan menikmati keindahan.

Meskipun keindahan tidak dapat dijadikan suatu pokok penghidupan, tetapi keindahan itu kita dapati dalam segala bidang kehidupan sehari-hari. Kiranya kepada anak juga perlu ditanamkan bahwa yang baik, yang indah , bukanlah yang mahal-mahal saja.

Sehingga mempunyai selera terhadap keindahan, lalu akan dapat menghargai dan menikmati keindahan itu sendiri. Keindahan tidak terletak pada mahal dan murah tetapi terletak pada seni bagaimana menyusun kombinasi dan komposisi.

2.6  Pendidikan Jasmani

Pendidikan jasmani bertujuan untuk membentuk watak, dengan memupuk dan mengembangkan sifat-sifat dan tabiat-tabiat yang baik. Selain itu agar anak dapat tumbuh jasmaninya dan mentalnya dengan sempurna. Jadi tujuan pendidikan jasmani yang sebenarnya ialah untuk mengadakan keselarasan atau keharmonisan antara dua ragam (Indrakusuma, 1973:55).

2.7 Pendidikan Agama

Pendidikan agama merupakan tanggung jawab dari keluarga dan orang tua. Oleh karena itu agar pendidikan agama dalam keluarga dpat berlangsung dengan baik, maka orang tua harus bersedia terus-menerus mendidik diri sendiri melalui mawas diri dan koreksi diri secara sungguh-sungguh. Tidak hanya pribadi dan perorangan. Agama disamping sebagai pandangan hidup juga merupakan tuntunan hidup manusia untuk dapat mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Agama adalah sumber moral sehingga tujuan pendidikan agama untuk menuntun anak menjadi manusia yang bermoral, berbudi luhur, bertakwa kepada Tuhan serta meyakini dan mengamalkan ajaran agama. Pendidikan agama bertugas mengutamakan pembinaan segi religius baik didalam kehidupan batiniah maupun dalam kehidupan lahiriah. Segi religius mengkhususkan diri pada apa yang kita hayati sebagai sesuatu yang suci dan luhur yang juga menyatakan apa yang benar dan yang nyata.

2.8. Pendidikan Kesejahteraan Keluarga

Pendidikan kesejahteraan keluarga pada dasarnya  mempunyai ruang lingkup atau scope yang luas. Sebab segala masalah dalam kehidupan terdapat dalam kehidupan keluarga, kesemuanya itu penting dan harus mendapat perhatian sepenuhnya demi kelancaran dan keselarasan hidup dalam berkeluarga. Tujuan Pendidikan kesejahteraan keluarga secara umum ialah untuk meningkatkan taraf kehidupan dan penghidupan keluarga, untuk mencapai terwujudnya keluarga yang sejahtera menuju masyarakat yang sejahtera.

Pendidikan keluarga berisikan sepuluh segi penghidupan dan kehidupan keluarga, yaitu:

  • Hubungan intra dan antar keluarga
  • Masalah membimbing anak
  • Masalah makanan
  • Masalah pakaian
  • Masalah perumahan (tata rumah)
  • Masalah kesehatan
  • Masalah keuangan
  • Masalah tata laksana rumah tangga
  • Masalah keamanan lahir dan batin
  • Masalah perencanaan sehat

Tujuan pendidikan kesejahteraan keluarga secara khusus (sekolah) memperdalam keinsafan anak atau perlunya hidup rukun, damai, hemat dan sejahtera dalam ikatan keluarga serta berselera dalam berpartisipasi mengurus kehidupan keluarga. Selain memberikan pengetahuan dan keterampilan mengenai kesejahteraan keluarga perlu ditambahkan sikap kepada anak untuk tidak memandang rendah terhadap pekerjaan di dalam rumah tangga.

Terkait dengan aspek-aspek pendidikan, dalam Undang-undang RI No. 20 tahun 2003 secara eksplisit merangkum aspek-aspek pendidikan tersebut sebagai berikut:

BAB II Pasal 3 tentang Fungsi Pendidikan.

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, krestif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

BAB III bagian kedua Pasal 6 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum.

1)      Kurikulum untuk jenis pendidikan umum, kejuruan dan khusus pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas:

  1. Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia.
  2. Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian.
  3. Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi.
  4. Kelompok mata pelajaran estetika.
  5. Kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan.

2)      Kurikulum untuk jenis pendidikan keagamaan formal terdiri atas kelompok mata pelajaran yang ditentukan brdasarkan tujuan pendidikan keagamaan.

3)      Satuan pendidikan non formal dalam bentuk kursus dan lembaga pelatihan menggunakan kurikulum berbasis kompetensi yang memuat pendidikan kecakapan hidup dan keterampilan.

4)      Setiap kelompok mata pelajaran dilaksanakan secara holisik sehingga pembalajaran masing-masing kelompok mata pelajaran mempengaruhi pemahaman dan/atau penghayatan peserta didik.

5)      Semua kelompok mata pelajaran sama pentingnya dalam menentukan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah.

6)      Kurikulum dan silabus SD/MI/SDLB/Paket A, atau bentuk lain yang sederajat menekankan pentingnya kemampuan dan kegemaran membaca dan menulis, kecakapan berhitung serta kemampuan berkomunikasi.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan sebagaimana diuraikan, dapat di simpulkan bahwa pendidikan mempunyai aspek-aspek yang luas yang dapat menumbuhkan semangat dalam menggapai cita-cita dan kemampuan di masa depan. Aspek-aspek pendidikan tersebut bersifat fundamental yang berarti bahwa aspek-aspek pendidikan tersebut memiliki sifat dasar dasar dan memilki arti penting dalam pendidikan.

Aspek-aspek pendidikan yang merupakan salah satu bentuk pendidikan yang dapat membentuk kepribadian yang baik dan luhur untuk terjun kedalam masyarakat. Aspek-aspek yang perlu dikembangkan tersebut adalah:

  1. Pendidikan Budi Pekerti atau Akhlak
  2. Pendidikan Kecerdasan
  3. Pendidikan Sosial dan Kewarganegaraan
    1. Pendidikan Estetika (keindahan)
    2. Pendidikan Jasmani
    3. Pendidikan Agama
    4. Pendidikan Kesejahteraan Keluarga

Hal yang perlu diperhatikan terkait dengan aspek-aspek pendidikan adalah substansi dari masing-masing aspek untuk di sampaikan secara menyeluruh kepada seseorang. Selain itu, cara atau metode pengajaran sebagai salah satu hal yang penting dalam menyampaikan pendidikan sehingga dalam pengembangan kepribadian tersebut akan tercipta kehidupan yang tertib dan damai,aman dan sejahtera,adil dan makmur.Dengan adanya kepribadian yang kritis dan kreatif menurut logika (yang benar-benar nyata), etika (susila), estetika (indah dan artistik) dan religi. Kehidupan akan senantiasa berjalan secara tepat dan selaras. Untuk memungkinkan terwujudnya manusia yang ahli dalam satu bidang dan mempunyai kepribadian yang luhur dibutuhkan pendidikan yang menyeluruh.

DAFTAR RUJUKAN

 

Indrakusuma, A. D. 1973. Pengantar Ilmu Pendidikan. Malang: FIP IKIP MALANG.

Said, M. 1978. Masalah Pendidikan Nasional. Jakarta

Tim dosen FIP-IKIP. 1980. Pengantar dasar-dasar pendidikan. Malang: FIP IKIP MALANG

Undang-undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bandung: Fokusmedia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: